Hari Raya Tumpek Uye (atau Tumpek Kandang) adalah hari suci umat Hindu di Bali untuk memuliakan binatang dan wujud syukur atas jasanya membantu kehidupan manusia, yang dirayakan setiap 210 hari pada Sabtu Kliwon Wuku Uye.
Berikut adalah makna mendalam dari Tumpek Uye:
Wujud Syukur dan Kasih Sayang: Sebagai bentuk terima kasih kepada hewan, baik peliharaan (ternak) maupun liar, yang telah membantu manusia dalam berbagai aktivitas.
Harmonisasi Manusia dan Alam: Menjaga hubungan harmonis (Pawongan) antara manusia dengan lingkungan, khususnya dunia binatang, sesuai ajaran Tri Hita Karana.
Pemuliaan Ciptaan Tuhan: Merupakan pemujaan kepada Sang Hyang Widhi Wasa (dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Siwa Pasupati) sebagai pelindung dan pencipta semua jenis satwa.
Kesadaran Etis dan Moral: Pengingat untuk merawat binatang tanpa pamrih dan tidak mengeksploitasinya, mencerminkan tanggung jawab etis manusia.
Penyucian Diri (Buana Alit): Secara simbolis, upacara ini juga bermakna untuk menyucikan diri dari sifat-sifat kebinatangan (seperti malas atau serakah) yang ada pada manusia.
Pada hari ini, umat Hindu biasanya memberikan sesajen (banten) khusus kepada hewan ternak atau peliharaan, serta mendoakan agar semua makhluk hidup mendapatkan keselamatan dan kedamaian.
Sabtu (7/2/2026), Sekcam Banjar, Ni Luh Srinadi Ajeng Kartini, SH. M.Pd., beserta staf mengikuti persembahyangan serangkaian Hari Raya Tumpek Uye di Pura Jagatnatha Buleleng. Hadir pada acara persembahyangan Bupati Buleleng, dr. Nyoman Sutjidra, Sp.OG., beserta istri dan Wakil Bupati, Gede Supriatna, S.H., beserta istri, yang juga dihadiri seluruh jajaran SKPD Pemkab Buleleng.
Acara dimulai pukul 08.00 Wita, diawali dengan ngaturang bhakti dan diakhiri dengan pelepasan burung serta benih ikan sebagai simbol kebebasan mahluk hidup dan pelestarian alam serta lingkungan. Momentum ini juga bermakna sebagai bentuk kasih sayang, serta permohonan keselamatan kepada Sang Hyang Widhi Wasa