(0362) 92503
banjar@bulelengkab.go.id
Kecamatan Banjar

Ajeg Bali, Menjaga Budaya Ngulat Khas Sidatapa Hingga Kini

Admin banjar | 07 Oktober 2021 | 55 kali

Ajeg Bali, Menjaga Budaya Ngulat Khas Sidatapa Hingga Kini

 

Mendengar kata Bali, pasti kita teringat dengan budayanya yang masih kental dan oleh-oleh kerajinan tangan yang keratif. Salah satu kerajinan yang banyak dijumpai adalah anyaman dari bambu. Di Bali bambu dimanfaatkan untuk kegiatan keagamaan maupun dijual sebagai souvenier atau pelengkap arsitektur bangunan.

Sidetapa, Bali Aga

Sidetapa merupakan salah satu desa tua di Bali Utara. Desa ini merupakan salah satu bagian desa Bali Aga yang terletak di kecamatan Banjar Kabupaten Buleleng Bali. Terdapat lima desa tertua di Bali (Bali Aga) terdiri dari Desa Sidetapa, Desa Cempaga, Desa Pedawa, Desa Tigawasa , Desa Banyusri.

Untuk menuju desa ini dari pusat kota singaraja, membutuhkan waktu 30 menit berkendara serta dekat dengan tempat rekreasi air panas dan wihara. Sebanyak 75 persen warga desa ini berprofesi sebagai pengerajin anyaman bambu, dimana memiliki perkerjaan sampingan berkebun.

Warisan Mengulat

Namanya Pak Putu Diarsa , umurnya 52 tahun dengan senyum lebarnya menyapa kami saat berkunjung ke rumahnya yang terletak di Dusun Delod Pura. Iya dengan anaknya yang bernama Komang Ariawan usia 32 tahun dan menantunya Puriasih usia 30 tahun  sedang ngulat lampu hiasan bambu yang dipesan oleh pengepul dari Bringkit Kabupaten Badung. Sembari duduk di teras rumahnya beliau bercerita awal mula ia belajar mengulat di umur 9 tahun. Awalnya ia belajar dasar-dasarnya seperti memotong bambu, nyembit sesuai ukuran menghaluskan hingga mengeringkan bambu. Ia juga bercerita awal mula ia mulai mengulat lampu hiasan untuk hotel di tahun 1990. Waktu itu harga guwungan ayam sangat murah tetapi biaya produksi bambu mahal maka ia berfikir untuk membuat suatu kerajinan dengan nilai jual yang lebih tinggi dari harga produksi. Lalu temannya memesan sebuah lampu dari guwungan bambu dan pak Diarsa bertugas untuk mendesain dan membuatnya. Semenjak itu ia menekuni usaha kerajinan hiasan lamu tersebut. Ada 2 tipe ulatan bambu yang pertama tipe guwungan dan kedua tipe klatkat. Hingga kini sudah ada puluhan desain yang sudah pernah dibuat oelh pak Diarsa.

Ada tiga banjar yang mempunyai jenis anyaman yang berbeda, Banjar Delod Pura mengulat lampu hias, Banjar Dajan Pura mengulat sokasi dan Banjar Lakah mengulat ngiu, tempeh. Dalam sehari ia bisa memproduksi 1-5 buah anyaman.  Beliau juga menuturkan jika bambu juga berharga di desanya karena sebagai prasarana upacara agama. Jadi setiap keluarga harus menanan bambu di kebunya masing-masing agar tidak membeli keluar atau meminta ke tetangga. 

Proses pembuatan anyaman bambu sebagai berikut : pertama, bambu disebit dengan ukuran yang sesuai dengan anyaman yang akan dibuat. Jenis bambu yang dipakai adalah bambu tali dan bambu tabah. Bambu yang sudah disebit dihaluskan dulu sebelum dianyam. Setelah halus bambu tersebut dapat diulat sesuai dengan model yang diinginkan. Anyaman yang telah jadi kemudian dijemur 1-2 hari. Setelah anyaman kering produk kerajinan tersebut siap untuk didistribusikan.

Dalam sehari pak Diarsa dapat memperoleh minimal Rp.100.000 rupiah sesuai dengan pesanan yang diterima. Produksi ini dikerjakan oleh anggota keluarga, tanpa memeprkerjakan orang luar. Selama pandemi ini pemesanan kerajinan anyaman bambu masih tetap ada, walaupun volume pemesanan tidak sebesar saat kondisi normal.  Walaupun anak muda dari sidetapa yang menekuni kerajinan anyaman ini sudah mulai berkurang dikarenakan beberapa dari mereka lebih tertarik untuk bekerja keluar desa. Namun tetap maish ada yang melestarikan usaha kerajinan bambu sebagai mata pencarian utama, bahkan bisa berkembang baik. (pas)